Oleh: kentzkentry | 12 Maret 2010

Tulisan Sebelumnya

SEJARAH PERKEMBANGAN PERIKLANAN

iklan philips

A. Pendahuluan
Norman Douglas, menurut Wilson (1989) pernah mengungkapkan bahwa anda dapat berceritera banyak hal secara ideal tentang suatu bangsa kepada bangsa lain melalui iklan. Mengapa?

B. Sejarah Periklanan Dunia

1. Periklanan di Jaman Mesopotamia

Iklan sebagaimana yang terlihat sekarang sudah dikenal dalam peradaban bangsa-bangsa Mesopotamia dan Babilonia kira-kira 3000 tahun sebelum masehi. Pada jaman ini para pedagang menyewa perahu dan mengutus pedagang keliling untuk mengantar hasil-hasil produksi kepada konsumen. Sistem pengedaran dilakukan dari rumah kerumah. Atau dengan mengunakan “tukang teriak kota“. Iklan awalnya disini mengunakan bentuk pesan berantai disebut juga the word of mouth. Hal ini dilakukan untuk membantu kelancaran jual beli didalam masyarakat yang masih belum mengenal huruf.

2. Periklanan di Jaman Yunani dan Romawi.

Kebiasaan berdagang door to door masih terus dilakukan dan dipertahankan sebagai suatu sistem pemasaran di jaman Yunani dalam perdagangan antar kota (polis) . Kebiasaan itu juga terdapat di masyarakat Romawi. Periklanan di Jaman Romawi nampaknya lebih maju selangkah dari cara-cara yang dilakukan sebelumnya. Selain kerena penyebaran informasi secara sepihak melalui pahatan pada dinding kota (relief) maka telah terjalin sistem pertukaran informasi secara cepat antara produsen dan konsumen. Keistimewaan sistem perdagangan di jaman romawi nampak karena mereka mulai mengarahkan pesan dan produk pada segmen pasar jelas karena segmen itu telah direncanakan terlebih dahulu.

Dimana pengantaran barang dilakukan setelah konsumen dipersuasi dengan informasi tentang barang-barang tersebut. Pada jaman Romawi ini pengunaan tanda , symbol atau papan nama juga mulai banyak di pasang di toko-toko. Bukti ini bisa dilihat dari stempel batu milik T. Vindaius Ariovertstus yang isinya menjajakan “obat paling mujarab dan tidak terkalahkan” dengan merek Chloron yang ditemukan di Inggris. Penggunaan simbol diluar tempat usaha yang berupa iklan cetak disebut hoarding adalah cikal-bakal penggunaan media luar ruang yang dikenal saat ini.

3. Periklanan di jaman Pertengahan sampai abad 18

Menurut Bovee (1986). Peralihan pesan-pesan iklan dari relief kota Pompei ke atas kertas untuk pertama kalinya dilakukan di Cina di saat kertas ditemukan ( 1275). Selanjutnya dikembangkan dengan penemuan mesin cetak yang pertama kali oleh Guttenberg di Mainz, Jerman (1455). Dimulailah penyebaran pesan iklan melalui media cetak. Iklan cetak pertama muncul di Inggris tahun 1472, yaitu berbentuk poster tentang terbitnya buku-buku doa gereja. Iklan Siquis muncul di Inggris pada akhir abad 15. berupa iklan tempel (want ad / iklan cari). Iklan ini mengandung unsur frase “ Siapapun mengetahui” atau “siapapun yang menginginkan”. Surat kabar pertama terbit di London tahun 1650, surat kabar tersebut menggunakan cara-cara pemberitaan berbentuk iklan.

Di Amerika serikat surat kabar yang pertama memasang iklan adalah Boston Newsletter pada tahun 1704. Benyamin Franklin dipandang sebagai orang AS pertama yang memperkaya informasi dari iklan dengan menambah suatu tekanan pada segi ilustrasi sehingga efek iklan makin kuat. Lembaga periklanan pertama di AS didirikan oleh Francis Ayer di Philadelphia pada tahun 1841. dengan nama N.W Ayer & Son. Periklanan yang ditata dengan cara bisnis modern baru dikenal tahun 1892 ketika N.W. Ayer mulai memperbaharui teknik penyampaian pesan untuk mempersuasi konsumen dengan merencanakan, menciptakan dan menjalankan kampanye iklan atas permintaan pengiklan.

Pada tahun 1839, penemuan fotografi telah memberikan kemudahan dalam proses pembuatan iklan dan menambah kredibilitas dan dunia baru bagi kreativitas iklan. Di AS selajutnya perkembangan Periklanan media cetak surat kabar kemudian merambah pada media majalah, bulan juli 1844 iklan majalah pertama secara khusus muncul dimajalah Southern Messenger, di bawah arahan Edgar Allen Poe. Munculnya teknologi komunikasi seperti telepon, telegraf dan juga film masa periode ini membawa kemajuan tersendiri bagi dunia periklanan.

4. Periklanan menjelang Abad 19 sampai tahun 1930.

Menjelang akhir abad 18 atau di awal abad ke 19 dunia umumnya mengalami pertambahan penduduk khususnya pertambahan kemampuan membaca dan menulis terutama tejadi di AS dan Eropa. A.C.Nielsen, Daniel Strach, George Gallup , mulai melakukan penelitian tentang hakekat periklanan dan keseluruhan sistemnya serta mengumpulkan pendapat umum tentang seberapa jauh pengaruh iklan terhadap khalayaknya.Pada era ini juga mulai ada perubahan dalam penggunaan media dari media cetak kepenggunaan media elektronik. Iklan radio mulai dikenal pada tanggal 2 November 1920 di Pittsburg, Pensylvania, Penggunaan televisi diperkenalkan pada tahun 1930-an maka J. Walter Thomson mulai menjajagi pemasangan iklan melalui layar kaca.

5. Periklanan Pasca Perang Dunai II.

Menurut Bovee perkembangan periklanan sesudah perang dunia II sampai sekarang paling tidak terdiri dari tiga era. Era tersebut dipengaruhi perkembangan perekonomian dunia pada jamannya sampai penghujung abad 20: 1. Era Unique Selling Proposition /USP. 2. Era the positioning 3. Era perhatian terhadap lingkungan ( Demarketing) 6. Era Global Interactive perkembangan teknologi baru diawal abad ke 21 membawa pengaruh yang besar bagi dunia periklanan. Televisi kabel dan satelit penerima memungkinkan orang untuk menonton saluran televisi yang memiliki program spesifik.

Penggunaan televisi kabel menjadikan televisi berubah dari media yang memliki jangkauan yang luas ke penggunaan jangkauan yang lebih khusus. Teknologi komputer juga memberikan pengaruh yang besar bagi dunia periklanan dengan menggunakan internet dalam menjangkau konsumen yang potensial. Sifat interaktif dari internet memungkinkan konsumen untuk mencari informasi produk yang mereka inginkan.

B. Posisi Iklan dan Kapitalisme

Perkembangan revolusi industri di eropa abad ke 18, mengarah kepada pengelolaan industri untuk memperoleh laba. Barang tidak lagi diproduksi untuk kebutuhan subsisten tetapi untuk mendapatkan laba sebanyak mungkin dari penjualan di pasar. Cara produksi kapitalis menggantikan cara produksi subsisten yang ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan keluarga. Semangat kapitalime ini sebenarnya sudah muncul pada abad 12 dan 13, dimana istilah capital muncul pertama kali waktu itu yang mengandung arti dana, penyedian barang, sejumlah uang dan bunga uang pinjaman. Kata kapital dikutip dari khotbah pendeta dari Siena yaitu st Bernandino (13801444) “ bahwa biasanya sebab utama dari kemakmuran adalah kapital)

Berangkat dari pandangan bahwa kapital akan membawa kemakmuran ini maka bisa dipahami bahwa kegiatan menimbun barang, mencari bunga uang pinjaman maupun menumpuk uang, dilakukan dengan sengaja dengan semangat untuk mendapatkan keuntungan. Kemakmuran dipahami dengan cara melakukan akumulasi barang maupun uang. Studi Max Weber tentang etika protestan dan semangat kapitalisme, bahwa pola hidup asketis dari sekte calvinisme agama protestan-lah yang menopang semangat akumulasi kapital. Dalam ajaran calvinisme akumulasi kapital dianggap sebagai pengumpulan kemakmuran bagi keagungan Tuhan bukan untuk kemewahan duniawi. Hal ini memungkinkannya transisi dari feodalisme menuju kapitalisme.

Dalam situasi kapitalisme mengahadapi masalah realisasi dikonsumsinya sejumlah besar barang yang telah diproduksi secara masal. Jika kapitalisme tidak mampu mengatasi hal tersebut maka kapitalisme akan runtuh. Oleh karena itu kelimpahan barang dipasaran perlu diimbangi dengan konsumsi yang sifatnya masal pula. Untuk itu menurut Galbraith dibutuhan adanya demand management Salah satu cara untuk menstimulasi demand adalah melalui publikasi massif dan dalam hal ini iklan menjadi satu elemen yang penting. Iklan adalah alat untuk menginformasikan tentang suatu barang maksudnya agar masyarakt tergerak hatinya membeli barang tersebut dengan demikian terjadi keseimbangan antara produksi dan konsumsi sehingga pasar tetap aman.

Menurut Konig, Iklan adalah satu bentuk informasi yang memberikan barita-berita yang up to date kepada konsumen mengenai komoditi-komoditi dan dorongandorongan kebutuhan tertentu yang bertujuan untuk menjaga tingkat produksi. Menurut Stuart Ewen, iklan sebagai captain of industry yaitu mengamankan bagian pasar dengan cara mengorganisir dan mengontrol selera dan prilaku masyarakat. Situasi melimpahnya barang konsumsi di pasar menurut Stuart Ewen disebut sebagai a continually responsive consumer marketing, dalam hal ini terjadi pergeseran dimana konsumen yang tadinya mencari barang dengan kualitas yang bisa dipercaya kini pabrik barang-baranglah yang mencari konsumen.

Bahwa pabrik tidak hanya harus memproduksi barang tapi juga memproduksi konsumen yang akan membeli barang tersebut. Dalam hal ini iklan menjadi sarana utama, dimana iklan bertugas menciptakan hasrat dalam diri konsumen, menyarankan konsumen bahwa ada yang kurang dalam hubungan mereka dengan orang lain dan menawarkan produk sebagai jawabannya. Disinilah dapat dipahami ajaran calvinisme bahwa kapitalisme harus mampu mengatasi sikap-sikap tradisional dan mengedepankan rasionalitas tercermin jelas dalam iklan. Iklan menggeser sikap hemat, sederhana menjadi hidup yang hedonis dan mengutamakan belanja. Iklan memberikan rasionalisasi yang membenarkan orang untuk tidak sayang mengeluarkan banyak uang dalam berbelanja. Belanja bukan lagi sesuatu yang harus dibatasi tetapi justru harus diekspresikan semaksimal mungkin.

Dalam perkembangan selanjutnya pendekatan psikologis mulai diterapkan dalam kegiatan periklanan sehingga mampu menggugah minat dan emosi masyarakat untuk mencari kepuasan dengan cara mengkonsumsi barang. Dalam hal ini iklan sebagai captain of industri bergeser menjadi captain of consciousness. Melalui citra-citra yang diciptakannya, iklan diharapkan mampu mengubah perilaku seseorang, menciptakan permintaan konsumen dan juga mampu membujuk orang agar berpartisipasi didalam kegiatan konsumsi yang pada akhirnya memproduksi masyarakat konsumen. Iklan menciptakan aktor-aktor yang terus merasa ketakutan dalam interaksi individu dengan sosialnya dan hanya iklan akan bisa mengatasi ketakutannya dengan membeli produknya.

Iklan mengklaim ini juga sebagai sarana untuk menyediakan budaya universal yang mampu mengatasi perbedaan sosial. Produk yang ditayangkan diklaim untuk mengkontruksi sebuah bangsa sebagai sebuah entitas homogen secara kultural meskipun pada kenyataanya multikultural. Jika semuanya adalah konsumen dari produk yang sama maka secara kultural mereka adalah sama, tidak peduli darimana mereka berasal.


Kategori

%d blogger menyukai ini: